Sabtu, 24 Maret 2018


Nama : Rini Febriani Sari
Kelas  : PGMI-1
Mata Kuliah : Konsep Dasar IPS


A.    LATAR BELAKANG LAHIRNYA IPS
Di sekolah-sekolah Amerika, pengajaran IPS dikenal dengan social studies. Jadi, istilah IPS merupakan terjemahan social studies. Yang dapat diartikan dengan “penelaahan atau kajian tentang masyarakat”. Dalam mengkaji masyarakat, guru dapat melakukan kajian dari berbagai perspektif sosial, seperti kajian melalui pengajaran sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi, politik-pemerintahan, dan aspek psikologi sosial yang disederhanakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pembelajaran IPS yang dilaksanakan baik pada pendidikan dasar maupun pada pendidikan tinggi tidak menekankan pada aspek teoritis keilmuannya, tetapi aspek praktis dalam mempelajari, menelaah, mengkaji gejala, dan masalah sosial masyarakat, yang bobot dan keluasannya disesuaikan dengan jenjang pendidikan masing-masing.
            Istilah sosial studies pertama kali digunakan sebagai nama sebuah lembaga yang diberi nama committe of social studies. Lembaga ini dibentuk untuk menghimpun tenaga ahli yang berminat pada kurikulum ilmu-ilmu sosial ditingkat sekolah dan ahli-ahli ilmu sosial yang mempunyai minat yang sama. Di indonesia social studies dikenal dengan nama studi sosial. Dalam kurikulum 1975, pendidikan ilmu sosial kemudian ditetapkan dengan nama ilmu pengetahuan sosial (IPS). Pembahasan mengenai latar belakang lahirnya IPS akan dilihat dari dua aspek, yakni latar belakang sosiologis dan pedagogis dengan mempertimbangkan aspek kemasyarakatan dan ilmu-ilmu sosial yang dikaji dalam IPS.
1.      Latar Belakang Sosiologis
Tinjauan terhadap latar belakang sosiologis difokuskan pada tempat lahirnya IPS yang pada awalnya bernama social studies. IPS dengan nama social studies pertama kali digunakan dqlam kurikulum sekolah Rugby di inggris pada tahun 1827. Dr.Thomas Arnold, direktur sekolah tersebut adalah orang pertama yang berjasa memasukkan IPS (social studies) Ke dalam kurikulum sekolah. Latar belakang dimasukkannya IPS kedalam kurikulum sekolah berangkat dari kondisi masyarakat inggris pada waktu itu yang tengah mengalami kekacauan akibat revolusi industri yang melanda negara itu. Masyarakat dan peradaban inggris terancam dekadensi, karena mekanisme industri telah menimbulkan kesulitan besar bagi masyarakat inggris, terutama kaum buruh.
           Kaum kapitalis dan pemerintah yang kurang memperhatikan nasib kaum buruh yang mengakibatkan terjadinya pemerasan dan penindasan. Selain itu, di inggris juga terjadi persaingan di kalangan buruh sendiri, yang menyebabkan hidup kaum tidak punya (the haves not) menjadi sangat menderita. Kehidupan antar kaum buruh dan antara buruh dengan majikan digambarkan oleh filosuf inggris Thomas Hobbes sebagai homo homini lupus bellum omnium contra omnes (manusia adalah serigala bagi yang lain, mereka saling berperang).
                    Singkatnya, manusia menjadi kehilangan kemanusiaannya (dehumanisasi).
       Sebagai respon terhadap keadaan yang demikian ironis, Arnold memasukkan IPS kedalam kurikulum sekolahnya. Upayanya kemudian ditiru oleh banyaj sekolah lainnya, dan sekaligus menjadi awal berkembangnya IPS sebagai mata pelajaran disekolah. Latar belakang munculnya IPS di Amerika Serikat berbeda dari inggris. Setelah Perang Budak atau Perang Saudara antara pemduduk Utara-Selatan (1861-1865), di Amerika terjadi kekacauan sosial. Masyarakat Amerika Serikat yang sangat beragam belum merasa menjadi satu bangsa. Segregasi sosial masih kental dan lekat dengan kehidupan masyarakat teraebut, para ahli kemasyarakatan Amerika Serikat mencari upaya untuk membantu proses pembentukan bangsa Amerika Serikat, antara lain dengan mengembangkan IPS sebagai jawaban atas situasi sosial.

2.                  Latar belakang Pedagogis
Latar belakang IPS juga dilatarrbelakangi oleh keinginan untuk menyiapkan peserta didik agar menjadi warga masyarakat yang bertanggung jawab, yakni dapat mewujudkan kewajiban dan hak-haknya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan mempelajari IPS, peserta didik diharapkan akan menjadi warga masyarakat yang tidak individualistik, yang hanya mementingkan kebutuhan sendiri, dan mengesampingkan kebutuhan orang lain atau warga masyarakat lainnya. Mereka diharapkan menjadi warga masyarakat yang memiliki watak sosial yang selalu sadar bahwa hidupnya hanya dapat berlangsung bersama dan bekerja sama dengan orang lain, dan orang lain hanya mau hidup bersama dan bekerja sama bila mendapat perlakuan yang baik dari mereka.
       Pendapat lain menyatakan bahwa IPS, pengajaran tentang kehidupan sosial dapat berlangsung secara lebih efisien, karena seluruh aspek kehidupan disajikan sekaligus. Dalam satu kali jangkau, seluruh segi kehidupan dapat dipelajari oleh peserta didik. Kebenaran yang diperoleh peserta didik akan lebih besar pula, karena mereka tidak melihat masyarakat bagian per-bagian, tetapi menyeluruh. Itulah latar belakang pedagogis dikembangkannya IPS. Mengingat berbagai kemiripan dan kegunaannya bagi pembinaan masyarakat indonesia, maka pengembangan IPS di dunia pendidikan di indonesia merupakan kebutuhan pedagogis sebagaimana halnya pengalaman di inggris dan Amerika Serikat sebagai wahana pembinaan sikap sosial bagi peserta didik.

B. RUANG LINGKUP KAJIAN IPS
    Secara mendasar, pembelajaran IPS berkenaan dengan kehidupan manusia yang melibatkan segala tingkah laku dan kebutuhannya. IPS berkenaan dengan cara manusia memenuhi kebutuhannya, baik kebutuhan untuk memenuhi materi, udaya, dan kewajibannya; memamfaatkan sumber-daya yang ada dipermukaan bumi; mengatur kesejahteraan dan pemerintahannya maupun kebutuhan lainnya dalam rangka mempertahankan kehidupan masyarakat manusia. Singkatnya, IPS mempelajari, menelaah dan mengkaji sistem kehidupan manusia di permukaan bumi ini dalam konteks sosialya atau manusia sebagai anggota masyarakat. Dengan pertimbangan bahwa manusia dalam konteks sosial demikian luas, pengajaran IPS pada jenjang pendidikan dasar berbeda dengan jenjang pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Pada jenjang pendidikan dasar, ruang lingkup pengajaran IPS dibatasi sampai pada gejala dan masalah sosial yang dapat dijangkau pada geografi dan sejarah. Terutama gejala dan masalah sosial kehidupan sehari-hari yang ada di lingkungan sekitar peserta didik MI/SD.
    Pada jenjang pendidikan menengah, ruang lingkup kajian diperluas. Begitu juga pada jenjang pendidikan tinggi; bobot dan keleluasaan materi dan kajian semakin dipertajam dengan pendekatan. Pendekatan interdisipliner atau multidisipliner dan penekatan sistem menjadi pilihan yang tepat untuk diterapkan karena IPS pada jenjang pendidikan tinggi menjadi sarana melatih daya pikir dan daya nalar mahasiswa secara berkesinambungan. Sebagaimana telah dikemukakan di depan, bahwa yang dipelajari IPS adalah manusia sebagaianggota masyarakat dalam konteks sosialnya, ruang lingkup kajian IPS meliputi (a) substansi materi ilmu-ilmu sosial yang bersentuhan dengan masyarakat dan (b) gejala, masalah, dan peristiwa sosial tentang kehiduapan masyarakat. Kedua lingkup pengjaran IPS ini harus diajarkan secara terpadu karena pengajaran IPS tidak hanya menyajikan materi-materi yang akan memenuhi ingatan peserta didik tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan sendiri sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat. Oleh karena itu, pengajaran IPS harus menggali materi-materi yang bersumber pada masyarakat. Dengan kata lain, pengajaran IPSyang melupakan masyarakat atau yang tidak berpijak pada kenyataan di dalam masyarakat tidak akan mencapai tujuannya.

C. TUJUAN IPS
    Sama halnya tujuan dalam bidang-bidang yang lain, tujuan pembelajaran IPS bertumpu pada tujuan yang lebih tinggi. Secara hirarki, tujuan pendidikan nasional pada tataran operasional dijabarkan dalam tujuan institusional tiap jenis dan jelang pendidikan. Selanjutnya pencapaian tujuan institusional tiap jenis dan jenjang pemdidikan. Selanjutnya,pencapaian tujuan institusional ini secarapraktis dijabarkan dalam tujuan kurikuler atau tujuan mata pelajaran pada setiap bidang studi dalam kurikulum, termasuk bidang studi IPS. Akhirnya tujuan kurikuler secaa praktis operasional dijabarkan dalam tujuan instruksional atau tujuan pembelajaran.
    Sub bahasan ini dibatasi pada uraian tujuan kurikuler bidang studi IPS. Tujuan kurikuler IPS yang harus dicapai sekurang-kurangnya meliputi hal-hal berikut :
·       Membekali peserta didik dengan pengetahuan sosial yang berguna dalam kehidupan masyarakat;
·       Membekali peserta didik dengan kemampuan mengidentifikasi, menganalisa dan menyusun alternatif pemecahan masalah sosial yang terjadi dalam kehidupan di masyarakat;
·       Membekali pesertaa didik dengan kemampuan berkomunikasi dengan sesama warga masyarakat dan dengan berbagai bidang keilmuan serta berbagai keahlian;
·       Membekali peserta didik dengan kesadaran, sikap mental yang positif, dan keterampilan terhadap lingkungan hidup yang menjadi bagian kehidupannya yang tidak terpisahkan; dan
·       Membekali peserta didik dengan kemampuan mengembangkan pengetahuan dan keilmuan IPS sesuai dengan perkembangan kehidupan, perkembangan masyarakat, dan perkembangan ilmu dan teknologi. Kelima tujuan diatas harus dicapai dalam pelaksanaan kurikulum IPS di berbagai lembaga pendidikan dengan keleluasaan, kedalaman dan bobot yang sesuai dengan jenis dan jenjang pendidikan yang dilaksanakan.




Fakta, Konsep dan Generalisasi
Fakta adalah  hal (keadaan, peristiwa) yang merupakan kenyataan  yang sungguh-sungguh terjadi dan terjamin kebenarannya atau  sesuatu yang benar-benar ada atau terjadi. Fakta adalah segala sesuatu yang terjadi, dapat diamati, diraba, dilihat, dirasa dan terjadi pada tempat dan waktu tertentu. Fakta merupakan salah satu bahan kajian yang amat penting dalam mata pelajaran IPS. Dengan kata lain bahwa fakta merupakan salah satu materi yang dikaji dalam IPS. Dengan fakta-fakta yang ada kita dapat menyimpulkan sesuatu atau  beberapa peristiwa yang pernah terjadi. Fakta merupakan titik awal untuk membentuk suatu konsep. Dari beberapa konsep yang saling berkaitan kita dapat membentuk suatu generalisasi. Fakta, konsep, dan generalisasi merupakan bahan kajian dalam Ilmu Pengetahuan Sosial yang harus dipahami siswa.
Menurut Soedjadi (2000:14) pengertian konsep adalah ide abstrak yang dapat digunakan untuk mengadakan klasifikasi atau penggolongan yang pada umumnya dinyatakan  dengan suatu istilah atau rangkaian kata.  
Menurut Bahri (2008:30) pengertian konsep adalah satuan arti yang mewakili sejumlah objek yang mempunyai ciri yang sama. Orang yang memiliki konsep mampu mengadakan abstraksi terhadap objek-objek yang dihadapi, sehingga objek-objek ditempatkan dalam golongan tertentu. Objek-objek dihadirkan dalam kesadaran orang dalam bentuk representasi mental tak berperaga. Konsep sendiri pun dapat dilambangkan dalam bentuk suatu kata (lambang bahasa).  Jadi  pengertian konsep adalah generalisasi dari sekelompok fenomena tertentu, sehingga dapat dipakai untuk menggambarkan barbagai fenomena yang sama.” Konsep adalah suatu abstraksi yang mewakili kelas objek-objek, kejadian-kejadian, kegiatan-kegiatan, atau hubungan-hubungan yang mempunyai atribut yang sama.
Hubungan  antar dua atau lebih konsep yang sudah teruji secara emperis dinamakan generalisasi. Oleh karena itu  generalisasi dapat berbentuk proposisi, hipotesis, inferens, kesimpulan, pemahaman, atau prinsip. 




DAFTAR PUSTAKA
Yusnaldi, Eka. 2017. Konsep Dasar Ilmu Pengetahuan Sosial. Medan: Iain Press
Hidayati, Mijunem, Senen Anwar, 2008. Pengembangan Pendidikan IPS SD. Jakarta: DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN TINGGI DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
http://Butterfly Can 't to Fly FAKTA, KONSEP,DAN GENERALISASI.htm

http://Makalah Pembaharuan Konsep dan Teori Dalam Pembelajaran IPS di MI.htm