Nama : Rini Febriani Sari
Kelas :
PGMI-1
Mata Kuliah : Konsep Dasar IPS
A. LATAR
BELAKANG LAHIRNYA IPS
Di sekolah-sekolah Amerika, pengajaran IPS
dikenal dengan social studies. Jadi, istilah IPS merupakan terjemahan social
studies. Yang dapat diartikan dengan “penelaahan atau kajian tentang
masyarakat”. Dalam mengkaji masyarakat, guru dapat melakukan kajian dari
berbagai perspektif sosial, seperti kajian melalui pengajaran sejarah,
geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi, politik-pemerintahan, dan aspek
psikologi sosial yang disederhanakan untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Pembelajaran IPS yang dilaksanakan baik pada pendidikan dasar maupun pada
pendidikan tinggi tidak menekankan pada aspek teoritis keilmuannya, tetapi
aspek praktis dalam mempelajari, menelaah, mengkaji gejala, dan masalah sosial
masyarakat, yang bobot dan keluasannya disesuaikan dengan jenjang pendidikan
masing-masing.
Istilah
sosial studies pertama kali digunakan sebagai nama sebuah lembaga yang diberi
nama committe of social studies. Lembaga ini dibentuk untuk menghimpun tenaga
ahli yang berminat pada kurikulum ilmu-ilmu sosial ditingkat sekolah dan
ahli-ahli ilmu sosial yang mempunyai minat yang sama. Di indonesia social
studies dikenal dengan nama studi sosial. Dalam kurikulum 1975, pendidikan ilmu
sosial kemudian ditetapkan dengan nama ilmu pengetahuan sosial (IPS).
Pembahasan mengenai latar belakang lahirnya IPS akan dilihat dari dua aspek,
yakni latar belakang sosiologis dan pedagogis dengan mempertimbangkan aspek kemasyarakatan
dan ilmu-ilmu sosial yang dikaji dalam IPS.
1. Latar Belakang Sosiologis
Tinjauan terhadap latar belakang sosiologis
difokuskan pada tempat lahirnya IPS yang pada awalnya bernama social studies.
IPS dengan nama social studies pertama kali digunakan dqlam kurikulum sekolah
Rugby di inggris pada tahun 1827. Dr.Thomas Arnold, direktur sekolah tersebut
adalah orang pertama yang berjasa memasukkan IPS (social studies) Ke dalam
kurikulum sekolah. Latar belakang dimasukkannya IPS kedalam kurikulum sekolah
berangkat dari kondisi masyarakat inggris pada waktu itu yang tengah mengalami
kekacauan akibat revolusi industri yang melanda negara itu. Masyarakat dan
peradaban inggris terancam dekadensi, karena mekanisme industri telah
menimbulkan kesulitan besar bagi masyarakat inggris, terutama kaum buruh.
Kaum
kapitalis dan pemerintah yang kurang memperhatikan nasib kaum buruh yang
mengakibatkan terjadinya pemerasan dan penindasan. Selain itu, di inggris juga
terjadi persaingan di kalangan buruh sendiri, yang menyebabkan hidup kaum tidak
punya (the haves not) menjadi sangat menderita. Kehidupan antar kaum buruh dan
antara buruh dengan majikan digambarkan oleh filosuf inggris Thomas Hobbes
sebagai homo homini lupus bellum omnium contra omnes (manusia adalah serigala
bagi yang lain, mereka saling berperang).
Singkatnya,
manusia menjadi kehilangan kemanusiaannya (dehumanisasi).
Sebagai
respon terhadap keadaan yang demikian ironis, Arnold memasukkan IPS kedalam
kurikulum sekolahnya. Upayanya kemudian ditiru oleh banyaj sekolah lainnya, dan
sekaligus menjadi awal berkembangnya IPS sebagai mata pelajaran disekolah.
Latar belakang munculnya IPS di Amerika Serikat berbeda dari inggris. Setelah
Perang Budak atau Perang Saudara antara pemduduk Utara-Selatan (1861-1865), di
Amerika terjadi kekacauan sosial. Masyarakat Amerika Serikat yang sangat
beragam belum merasa menjadi satu bangsa. Segregasi sosial masih kental dan
lekat dengan kehidupan masyarakat teraebut, para ahli kemasyarakatan Amerika
Serikat mencari upaya untuk membantu proses pembentukan bangsa Amerika Serikat,
antara lain dengan mengembangkan IPS sebagai jawaban atas situasi sosial.
2.
Latar belakang Pedagogis
Latar belakang IPS juga dilatarrbelakangi oleh
keinginan untuk menyiapkan peserta didik agar menjadi warga masyarakat yang
bertanggung jawab, yakni dapat mewujudkan kewajiban dan hak-haknya dalam
kehidupan sehari-hari. Dengan mempelajari IPS, peserta didik diharapkan akan
menjadi warga masyarakat yang tidak individualistik, yang hanya mementingkan
kebutuhan sendiri, dan mengesampingkan kebutuhan orang lain atau warga
masyarakat lainnya. Mereka diharapkan menjadi warga masyarakat yang memiliki
watak sosial yang selalu sadar bahwa hidupnya hanya dapat berlangsung bersama dan
bekerja sama dengan orang lain, dan orang lain hanya mau hidup bersama dan
bekerja sama bila mendapat perlakuan yang baik dari mereka.
Pendapat
lain menyatakan bahwa IPS, pengajaran tentang kehidupan sosial dapat
berlangsung secara lebih efisien, karena seluruh aspek kehidupan disajikan
sekaligus. Dalam satu kali jangkau, seluruh segi kehidupan dapat dipelajari
oleh peserta didik. Kebenaran yang diperoleh peserta didik akan lebih besar
pula, karena mereka tidak melihat masyarakat bagian per-bagian, tetapi
menyeluruh. Itulah latar belakang pedagogis dikembangkannya IPS. Mengingat
berbagai kemiripan dan kegunaannya bagi pembinaan masyarakat indonesia, maka
pengembangan IPS di dunia pendidikan di indonesia merupakan kebutuhan pedagogis
sebagaimana halnya pengalaman di inggris dan Amerika Serikat sebagai wahana
pembinaan sikap sosial bagi peserta didik.
B. RUANG LINGKUP KAJIAN IPS
Secara mendasar, pembelajaran IPS berkenaan
dengan kehidupan manusia yang melibatkan segala tingkah laku dan kebutuhannya.
IPS berkenaan dengan cara manusia memenuhi kebutuhannya, baik kebutuhan untuk
memenuhi materi, udaya, dan kewajibannya; memamfaatkan sumber-daya yang ada
dipermukaan bumi; mengatur kesejahteraan dan pemerintahannya maupun kebutuhan
lainnya dalam rangka mempertahankan kehidupan masyarakat manusia. Singkatnya,
IPS mempelajari, menelaah dan mengkaji sistem kehidupan manusia di permukaan
bumi ini dalam konteks sosialya atau manusia sebagai anggota masyarakat. Dengan
pertimbangan bahwa manusia dalam konteks sosial demikian luas, pengajaran IPS
pada jenjang pendidikan dasar berbeda dengan jenjang pendidikan menengah dan
pendidikan tinggi. Pada jenjang pendidikan dasar, ruang lingkup pengajaran IPS
dibatasi sampai pada gejala dan masalah sosial yang dapat dijangkau pada
geografi dan sejarah. Terutama gejala dan masalah sosial kehidupan sehari-hari
yang ada di lingkungan sekitar peserta didik MI/SD.
Pada jenjang pendidikan
menengah, ruang lingkup kajian diperluas. Begitu juga pada jenjang pendidikan
tinggi; bobot dan keleluasaan materi dan kajian semakin dipertajam dengan
pendekatan. Pendekatan interdisipliner atau multidisipliner dan penekatan
sistem menjadi pilihan yang tepat untuk diterapkan karena IPS pada jenjang
pendidikan tinggi menjadi sarana melatih daya pikir dan daya nalar mahasiswa
secara berkesinambungan. Sebagaimana telah dikemukakan di depan, bahwa yang
dipelajari IPS adalah manusia sebagaianggota masyarakat dalam konteks
sosialnya, ruang lingkup kajian IPS meliputi (a) substansi materi ilmu-ilmu
sosial yang bersentuhan dengan masyarakat dan (b) gejala, masalah, dan
peristiwa sosial tentang kehiduapan masyarakat. Kedua lingkup pengjaran IPS ini
harus diajarkan secara terpadu karena pengajaran IPS tidak hanya menyajikan
materi-materi yang akan memenuhi ingatan peserta didik tetapi juga untuk
memenuhi kebutuhan sendiri sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat.
Oleh karena itu, pengajaran IPS harus menggali materi-materi yang bersumber
pada masyarakat. Dengan kata lain, pengajaran IPSyang melupakan masyarakat atau
yang tidak berpijak pada kenyataan di dalam masyarakat tidak akan mencapai
tujuannya.
C. TUJUAN IPS
Sama halnya tujuan dalam bidang-bidang yang
lain, tujuan pembelajaran IPS bertumpu pada tujuan yang lebih tinggi. Secara
hirarki, tujuan pendidikan nasional pada tataran operasional dijabarkan dalam
tujuan institusional tiap jenis dan jelang pendidikan. Selanjutnya pencapaian
tujuan institusional tiap jenis dan jenjang pemdidikan. Selanjutnya,pencapaian
tujuan institusional ini secarapraktis dijabarkan dalam tujuan kurikuler atau
tujuan mata pelajaran pada setiap bidang studi dalam kurikulum, termasuk bidang
studi IPS. Akhirnya tujuan kurikuler secaa praktis operasional dijabarkan dalam
tujuan instruksional atau tujuan pembelajaran.
Sub bahasan ini dibatasi pada
uraian tujuan kurikuler bidang studi IPS. Tujuan kurikuler IPS yang harus
dicapai sekurang-kurangnya meliputi hal-hal berikut :
·
Membekali peserta didik
dengan pengetahuan sosial yang berguna dalam kehidupan masyarakat;
·
Membekali peserta didik
dengan kemampuan mengidentifikasi, menganalisa dan menyusun alternatif
pemecahan masalah sosial yang terjadi dalam kehidupan di masyarakat;
·
Membekali pesertaa didik
dengan kemampuan berkomunikasi dengan sesama warga masyarakat dan dengan
berbagai bidang keilmuan serta berbagai keahlian;
·
Membekali peserta didik
dengan kesadaran, sikap mental yang positif, dan keterampilan terhadap
lingkungan hidup yang menjadi bagian kehidupannya yang tidak terpisahkan; dan
·
Membekali peserta didik
dengan kemampuan mengembangkan pengetahuan dan keilmuan IPS sesuai dengan
perkembangan kehidupan, perkembangan masyarakat, dan perkembangan ilmu dan
teknologi. Kelima tujuan diatas harus dicapai dalam pelaksanaan kurikulum IPS
di berbagai lembaga pendidikan dengan keleluasaan, kedalaman dan bobot yang
sesuai dengan jenis dan jenjang pendidikan yang dilaksanakan.
Fakta, Konsep dan Generalisasi
Fakta adalah hal (keadaan,
peristiwa) yang merupakan kenyataan yang sungguh-sungguh terjadi dan
terjamin kebenarannya atau sesuatu yang benar-benar ada atau terjadi.
Fakta adalah segala sesuatu yang terjadi, dapat diamati, diraba, dilihat,
dirasa dan terjadi pada tempat dan waktu tertentu. Fakta merupakan salah satu
bahan kajian yang amat penting dalam mata pelajaran IPS. Dengan kata lain bahwa
fakta merupakan salah satu materi yang dikaji dalam IPS. Dengan fakta-fakta
yang ada kita dapat menyimpulkan sesuatu atau beberapa peristiwa yang
pernah terjadi. Fakta merupakan titik awal untuk membentuk suatu konsep. Dari
beberapa konsep yang saling berkaitan kita dapat membentuk suatu generalisasi.
Fakta, konsep, dan generalisasi merupakan bahan kajian dalam Ilmu Pengetahuan
Sosial yang harus dipahami siswa.
Menurut Soedjadi (2000:14) pengertian
konsep adalah ide abstrak yang dapat digunakan untuk mengadakan klasifikasi
atau penggolongan yang pada umumnya dinyatakan dengan suatu istilah atau
rangkaian kata.
Menurut Bahri (2008:30) pengertian konsep adalah satuan
arti yang mewakili sejumlah objek yang mempunyai ciri yang sama. Orang yang
memiliki konsep mampu mengadakan abstraksi terhadap objek-objek yang dihadapi,
sehingga objek-objek ditempatkan dalam golongan tertentu. Objek-objek
dihadirkan dalam kesadaran orang dalam bentuk representasi mental tak
berperaga. Konsep sendiri pun dapat dilambangkan dalam bentuk suatu kata
(lambang bahasa). Jadi pengertian konsep adalah generalisasi dari
sekelompok fenomena tertentu, sehingga dapat dipakai untuk menggambarkan
barbagai fenomena yang sama.” Konsep adalah suatu abstraksi yang mewakili kelas
objek-objek, kejadian-kejadian, kegiatan-kegiatan, atau hubungan-hubungan yang
mempunyai atribut yang sama.
Hubungan antar dua atau lebih
konsep yang sudah teruji secara emperis dinamakan generalisasi. Oleh karena itu
generalisasi dapat berbentuk proposisi, hipotesis, inferens, kesimpulan,
pemahaman, atau prinsip.
DAFTAR PUSTAKA
Yusnaldi, Eka. 2017. Konsep Dasar Ilmu Pengetahuan Sosial.
Medan: Iain Press
Hidayati,
Mijunem, Senen Anwar, 2008. Pengembangan
Pendidikan IPS SD. Jakarta: DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN TINGGI
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
http://Butterfly
Can 't to Fly FAKTA, KONSEP,DAN GENERALISASI.htm
http://Makalah
Pembaharuan Konsep dan Teori Dalam Pembelajaran IPS di MI.htm
Tidak ada komentar:
Posting Komentar